LAPORAN PENDAHULUAN
Judul :
ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN GANGGUAN SISTEM
HEMATOLOGI DAN IMUNOLOGI a.i DHF DI LANTAI 8 BLOK B RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KOJA
TAHUN 2016
Nama : Yulinar
NIM : 2014720087
Tempat Praktik :
RSUD KOJA
Tanggal Praktik : 28
Desember 2015
Mata Kuliah : Praktik
Klinik 1 (sistem Hematologi dan Imunologi)
Kelas : II B
Semester/ Th Akademik :
III/ 2015-2016
PROGRAM
STUDI KEPERAWATAN
FAKULTAS
ILMU KEPERAWATAN
UNIVERSITAS
MUHAMMADIYAH JAKARTA
Januari
2016
ISI
LAPORAN PENDAHULUAN
ASUHAN
KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN GANGGUAN SISTEM
HEMATOLOGI DAN IMUNOLOGI a.i DHF DI
LANTAI 8 BLOK B RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KOJA TAHUN 2016
A.
Pengertian
Demam
berdarah Dengue (DBD) dan syndrome syok dengue (SSD) merupakan penyakit infeksi
yang masih menimbulkan masalah kesehatan dinegara sedang berkembang, khususnya
Indonesia. Hal ini disebabkan oleh masih tingginya angka morbiditas dan
mortalitas. (Rampengan, 2007)
DHF
adalah suatu infeksi arbovirus akut yang masuk kedalam tubuh melalui gigitan
nyamuk spesies aides. Penyakit ini sering menyerang anak, remaja dan dewasa
yang ditandai dengan demam, nyeri otot dan sendi. Demam berdarah dengue sering
disebut pula dengue haemoragic fever (DHF). Penyakit akut dengan demam disertai
perdarahan, trombositopenia (20 % dari Ht rekonvalesen atau menurut umur),
efusi pleura, asites, efusi perikardium, hipoproteinemia, dan hipoalbuminemia.
(Desmawati, 2013).
Demam
dengue/DHF dan demam berdarah dengue/DBD (dengue haemorrhagic fever/DHF) adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh
virus dengue dengan manifestasi klinis demam, nyeri otot dan/atau nyeri sendi
yang disertai leukopenia, ruam, limfadenipati,trompositopenia dan ditesis
hemoragik. Pada DBD terjadi perembesan plasma yang ditandai dengan
hemokonsentrasi (peningkatan hematrokit) atau penumpukan cairan dirongga
tubuh.Sindrom renjatan dengue (dengue syok syndrome) adalah demam berdarah
dengue yang ditandai oleh renjatan/syok. (Sudoyo aru,dkk 2009)
B.
Patoflow
-Anoreksia manisfestasi
|
Perubahan
perfusi jaringan
|
|
Perubahan
nutrisi
Kurang dari
kebutuhan tubuh
|
|
Resiko
syok Hipovolemik
|
|
Resiko
kekurangan volume cairan
|
C.
Pemeriksaan
Penunjang
1. Pemeriksaan
Darah lengkap
2. Pemeriksaan
dengue Blood (metode rapid)
3. Pemeriksaan
NS
4. Tes
Inhibisi hemaglutinasi (HI)
5. Tes
netralisasi
6. Tes
fiksasi komplemen
Untuk memastikan
infeksi dengue pada pasien dengan sample serum berpasangan yang diambil pada
akhir infeksi.
7. Imunoesei
dot-blot
Teknologi imunoesei
dot-blot adalah teknik yang relativ baru, sedikitnya satu Imunoesei dot-blot
untuk antibodi dengue tersedia secara komersial.
8. Pemeriksaan
rumple Leed tes (torniquet test)
Rumple leed tes adalah
salah satu cara yang paling mudah dan cepat untuk menentukan apakah terkena
demam berdarah atau tidak. Rumple leed adalah pemeriksaan bidang hematologi
dengan melakukan pembendungan pada bagian lengan atas selama 10 menit untuk uji
diagnostik kerapuhan vaskuler dan fungsi trombosit.
9. Rontgen
toraxs
Untuk melihat efusi
pleura
D.
Penatalaksanaan
Medis
Indikasi
rawat tinggal pada dugaan infeksi virus dengue :
1. Panas
(1-2 hari ) disertai dehidrasi (karena panas, muntah, masukan kurang) atau
kejang-kejang.
2. Panas
3-5 hari disertai nyeri perut, pembesaran hati, uji torniquet positif/negatif,
kesan sakit keras (tidak mau bermain), Hb dan PCV meningkat.
3. Panas
disertai perdarahan
4. Panas
disertai renjatan
Sebelum
atau tanpa renjatan
1.
Grade
I dan II
a. Oral
b. Infuse
cairan RL dengan dosis 75 ml/kg BB/hari untuk anak dengan BB <10 kg atau 50
ml/kg BB/hari untuk anak dengan BB <10 kg bersama-sama diberikan minum
oralit, air buah atau susu secukupnya.
Untuk kasus yang
menunjukan gejala dehidrasi disarankan minum sebanyak banyaknya dan sesering
mungkin.
Apabila anak tidak suka
minum sama sekali sebaiknya jumlah cairan infuse yang harus diberikan sesuai
dengan kebutuhan cairan penderita dalam kurun waktu 24 jam yang diestimasikan
sebagai berikut :
·
100 ml/kg BB/24 jam,
untuk anak dengan BB <25 kg
·
75 ml/kg BB/24 jam,
untuk anak dengan BB 26-30 kg
·
60 ml/kg BB/24 jam, untuk
anak dengan BB 31-40
·
50 ml/kg BB/24 jam,
untuk anak dengan BB 41-50
·
Obat obatan lain:
antibiotika apabila ada infeksi lain, antipiretik untuk anti panas, darah 15
cc/ kg BB/Hari perdarahan hebat.
2.
Grade
II
a. Berikan
infuse RL 20 ml/kgBB/1jam
Apabila menunjukan
perbaikan (tensi terukur lebih dari 80 mmHg dan nadi teraba dengan frekuensi
kurang dari 120/mnt dan akral hangat) lanjutkan dengan Ringer Laktat 10
ml/kgBB/1 Jam. Jika nadi dan tensi stabil lanjutkan infuse tersebut dengan
jumlah cairan dihitung berdasarkan kebutuhan cairan dalam kurun waktu 24 jam
dikurangi cairan yang sudah masuk dibagi dengan sisa waktu (24 jam dikurangi
waktu yang dipakai untuk mengatasi renjatan). Perhitungan kebutuhan cairan
dalam 24 jam diperhitungkan sebagai berikut :
·
100 ml/kg BB/24 jam,
untuk anak dengan BB <25 kg
·
75 ml/kg BB/24 jam,
untuk anak dengan BB 26-30
·
60 ml/kg BB/24 jam,
untuk anak dengan BB 31-40
·
50 ml/kg BB/24 jam,
untuk anak dengan BB 41-50
E.
Konsep
lain yang terkait dan dipandang penting
a.
Klasifikasi
Demam Berdarah
1.
Derajat
I
Demam disertai gejala
klinis lain, tanpa perdarahan spontan. Panas 2-7 hari, uji torniquet positif,
trombositopenia, dan hemokonsentrasi.
2.
Derajat
II
Sama dengan derajat I,
ditambah dengan gejala-gejala perdarahan
spontan seperti petekie, ekimosis, hematemesis, melena, perdarahan gusi.
3.
Derajat
III
Ditandai oleh gejala
kegagalan peredaran darah seperti nadi lemah dan cepat (>120 x/menit),
tekanan nadi sempit (120 mmHg), tekanan darah menurun (120/80, 120/100,
120/110, 90/70, 80/70, 80/0 0/0).
4.
Derajat
IV
Nadi tidak teraba,
tekanan darah tidak teratur (denyut jantung, 140 x/menit) anggota gerak teraba
dingin, berkeringat dan kulit tampak biru.
b.
Etiologi
Demam berdarah adalah
penyakit akut yang disebabkan oleh virus dengue, yang ditularkan oleh nyamuk.
Penyakit ini ditemukan didaerah tropis dan subtropis, dan menjangkit luas di
banyak negara di Asia Tenggara. Terdapat 4 jenis virus dengue masing masing
dapat menyebabkan demam berdarah, baik ringan maupun fatal.
c.
Komplikasi
1. Perdarahan
luas
2. Syok
3. Ensefalopati
dengue
4. Kelainan
ginjal
5. Edema
paru
6. Penurunan
kesadaran
d.
Manifestasi
Klinis
Penyakit
ini ditunjukan melalui munculnya demam secara tiba tiba, disertai sakit kepala
berat, sakit pada sendi dan otot (myalgia dan artharalgia) dan ruam-ruam demam
berdarah yang mempunyai ciri ciri merah terang, petekie dan biasanya muncul
dulu pada bagian bawah badan pada beberapa pasien, ia menyebar hingga
menyelimuti hampir seluruh tubuh. Selain itu radang perut bisa juga muncul dengan kombinasi sakit di
perut, rasa mual, muntah-muntah atau diare, pilek ringan disertai batuk-batuk.
Kondisi waspada ini perlu disikapi dengan pengetahuan yang luas oleh penderita
maupun keluarga yang harus segera berobat apabila pasien/ penderita mengalami
demam tinggi 3 hari berturut-turut. Banyak penderita atau keluarga penderita
mengalami kondisi fatal karena menganggap ringan gejala-gejala tersebut.
Demam berdarah umumnya
lamanya sekitar enam atau tujuh hari dengan puncak demam yang lebih kecil
terjadi pada akhir masa demam. Secara klinis, jumlah platelet akan jatuh hingga
pasien dianggap afebril.
Sesudah masa tunas
/inkubasi selama 3-15 hari orang yang tertular dapat mengalami/ menderita
penyakit ini dalam salah satu dari 4 bentuk berikut ini :
·
Bentuk abortif,
penderita tidak merasakan suatu gejala apapun.
·
Dengue klasik,
penderita mengalami demam tinggi selama 4-7 hari, nyeri-nyeri pada tulang ,
diikuti dengan munculnya bintik-bintik atau bercak-bercak perdarahan dibawah
kulit.
·
Dengue haemorrhagic
fever (demam berdarah dengue/ DBD) gejalanya sama dengan dengue klasik ditambah
dengan perdarahan dari hidung (epitaksis/mimisan), mulut, dubur dan sebagainya.
·
Dengue syok syndrome,
gejalanya sama dengan DBD ditambah dengan syok presyok. Bentuk ini sering
berujung pada kematian.
Karena
seringnya terjadi perdarahan dan syok maka pada penyakit ini angka kematiannya
cukup tinggi, oleh karena itu setiap penderita yang diduga menderita penyakit
demam berdarah dalam tingkat yang manapun harus segera dibawa kerumah sakit,
mengingat sewaktu-waktu dapat mengalami syok/ kematian.
Penyebab
demam berdarah menunjukan demam yang lebih tinggi, perdarahan, trombositopenia
dan hemokonsentrasi. Sejumlah kasus kecil bisa menyebabkan syndrome syok dengue
yang mempunyai tingkat kematian tinggi.
F.
Pengkajian
a. Identitas
pasien
b. Keluhan
utama :(mengeluh panas, sakit kepala, lemah, nyeri ulu hati, mual dan nafsu
makan menurun)
c. Riwayat
penyakit sekarang : (menunjukan adanya sakit kepala, nyeri otot, pegal seluruh
tubuh, sakit pada waktu menelan, lemah, panas, mual dan nafsu makan menurun).
d. Riwayat
penyakit terdahulu
e. Riwayat
penyakit keluarga :riwayat penyakit DHF pada anggota keluarga lain sangat
menentukan.
f. Riwayat
kesehatan lingkungan :biasanya lingkungannya kurang bersih, banyak genangan air
bersih seperti kaleng bekas.
g. Riwayat
tumbuh kembang
h. Pengkajian
persisem (pemeriksaan fisik)
·
Sistem pernafasan
:sesak, perdarahan melalui hidung, pernafasan dangkal, epistaksis, perkusi
sonor.
·
Sistem persyarafan
:pada grade III pasien gelisah dan terjadi penurunan kesadaranserta pada grade
IV dapat terjadi DSS.
·
Sistem kardiovaskuler
:grade I penurunan hemokonsentrasi, uji torniquet positif, trombositopeni,
grade III kegagalan sirkulasi, nadi cepat, lemah, hipotensi.
·
Sistem pencernaan
:selaput mukosa kering, kesulitan menelan, nyeri tekan pada epigastrik,
pembesaran limfa.
·
Sistem perkemihan
:produksi urine menurun, kadang <30
cc/jam
·
Sistem integumen
:peningkatan suhu tubuh, kulit kering.
G.
Diagnosa
teori
1. Ketidakefektifan
perfusi jaringan perifer b.d kebocoran plasma darah.
2. Nyeri
akut
3. Hipertermia
b.d proses infeksi dengue
4. Kekurangan
volume cairan b.d pindahnya cairan intravaskuler ke ekstravaskuler
5. Resiko
syok (hypovolemik) b.d perdarahan yang berlebihan, pindahnya cairan
intravaskuler ke ekstravaskuler
6. Ketidakseimbangan
nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d intake nutrisi yang tidak adekuat
akibat mual dan nafsu makan yang menurun
7. Resiko
perdarahan b.d penurunan factor-faktor pembekuan darah (trombositopeni)
8. Ketidakefektifan
pola nafas b.d jalan nafas terganggu akibat spasme otot-otot pernafasan, nyeri,
hipoventilasi
H.
Rencana
keperawatan
1.
Resiko
tinggi syok hipovolemik berhubungan dengan perdarahan hebat
Tujuan:
Setelah
dilakukan tindakan keperawatan selama dirumah sakit diharapkan syok hipovolemik
tidak terjadi.
Kriteria hasil:
·
Keadaan umum baik(dapat
berjalan sekitar kamar)
·
Hasil labolatorium
normal (Hb 13.5 gr/dl, Hb 40-45 %, trombosit 200-400 ribu/mm3)
Intervansi :
-
Monitor keadaan umum
pasien
Resional : memantau
kondisi pasien selama masa perawatan terutama pada saat terjadi perdarahan
sehingga segera diketahui tanda syok dan dapat segera ditangani.
-
Observasi tanda-tanda
vital selama 2 sampai 3 jam
Rasional : tanda vital
normal menandakan keadaan umum baik
-
Monitor tanda
perdarahan (petekie, melena, dll)
Rasional : pardarahan
capat diketahui dan dapat diatasi sehingga pasien tidak sampai syok
hipovolemik.
-
Chek haemoglobin,
hematrokit, trombosit
Rasional : untuk
mengtahui tingkat kebocoran pembuluh darah yangdialami pasien sebagai acuan
melakukan tindakan lebih lanjut.
-
Berikan transfusi
sesuai program dokter
Rasional : untuk
menggantikan volume darah serta komponen darah yang hilang
2.
Perubahan
nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh terhubungan dengan mual,muntah, tidak nafsu
makan
Tujuan :
Setelah
dilakukan tindakan keperawatan selama dirumah sakit diharapkan kebutuhan
nutrisi pasien dapat terpenuhi
Kriteria hasil :
· Pasien mampu makan sesuai porsi yang diberikan
· Kulit
pasien tidak kering dan bersisik
· Mual
dan muntah berkurang bahkan hilang
· Nilai
Hb normal (permapuan 12-14, laki-laki 13-17 )
Intervensi :
-
Kaji kkeluhan maul,
sakit menelan dan mual yang dialami pasien
Rasional : untuk
menetapkan cara mengatasinya
-
Kaji cara/ bagaimana
makanan dihindari
Rasional : cara
menghindarkan makanan dapat mempengaruhi nafsu makan pasien
-
Berikan makanan yang
mudah ditelan separti bubur
Rasional : membantu
mengurangi kelelahan pasien dan meningkatkan asupan makanan
-
Berikan makanan dalam
porsi kecildan frekuensi sering
Rasional : untuk
menghindari mual
-
Catat jumlah/porsi
makanan yang dihabiskan oleh pasien setiap hari
Rasional : untuk
mengetahui pemenuhan kebutuhan nutrisi
-
Berikan obat-obatan
antiemetik sesuai program dokter
Rasional ; antiemetic
membantu pasien mengurangi rasa mual dan muntah dan diharapkan intake nurtisi
pasien meningkat.
3.
Kekurangan
volume cairan b.d pindahnya cairan intravaskuler ke ekstravaskuler
Kurangnya
volume cairan pada anak dengan DHF ini
dapat disebabkan oleh adanya perpindahan cairan intravaskuler ke ekstravaskuler
akibat peningkatan permeabilitas kapiler
dan untuk itu tujuan rencana keperawatannya adalah mengatasi kurangnya cairan
serta memperatahankan asupan dan keluhannya.
Tujuan :
Setelah dilakukan tindakan keperawatan
selama dirumah sakit diharapkan kebutuhan caitan pasien dapat terpenuhi
Kriteria hasil :
·
Mempertahankan urine
outputsesuai dengan usia dan BB, BJ urine normal, HT normal
·
Tekanan darah, nadi ,
suhu tubuh dalam batas normal
·
Tidak ada tanda-tanda
dehidrasi, elastisitas turgor kulit baik,membrane mukosa lembab, tidak ada rasa
haus yang berlebihan
Intervensi :
-
Pertahankan intake dan
outputbyang adekuat
-
Monitor status hidrasi
(kelembaban membrane mukosa, nadi adekuat, tekanan darah ortostatik ), jika
diperlukan
-
Kolaborasi pemberian
cairan IV
DAFTAR
PUSTAKA
Amin,Hardi. (2013). Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan
Diagnosa Medis Nanda NIC-NOC. (Edisi Revisi Jilid 1). Yogyakarta :
Mediaction Publishing.
Desmawati. (2013). Sistem Hematologi dan Imunologi Asuhan Keperawatan Umum dan Maternitas.Jakarta
:In Media.
Nursalam. (2009).
Proses Dokumentasi Keperawatan (Edisi
2). Jakarta : Salemba Medika.
Rampengan T.H. 2007. Penyakit Infeksi Tropik Pada Anak Edisi 2.
Jakarta :EGC
LAPORAN AKHIR
Judul :
ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN GANGGUAN SISTEM
HEMATOLOGI DAN IMUNOLOGI a.i ANEMIA DI
LANTAI 8 BLOK B RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KOJA TAHUN 2016
Nama
: Haryanti dan Yulinar
NIM
: 20147200..
2014720087
Tempat Praktik : RSUD KOJA
Tanggal Praktik : 28 Desember 2015
Mata Kuliah : Praktik Klinik 1
Kelas :
II B
Semester/ Th Akademik : III/ 2015-2016
PROGRAM
STUDI KEPERAWATAN
FAKULTAS
ILMU KEPERAWATAN
UNIVERSITAS
MUHAMMADIYAH JAKARTA
Januari 2016
FAKULTAS
ILMU KEPERAWATAN
UNIVERSITAS
MUHAMMADIYAH JAKARTA
Jl.
Cempaka Putih Tengah I/1 Jakarta, Telp/ Faks :02142802202
FORMAT ASUHAN KEPERAWATAN
Nama
Mahasiswa : Haryanti Fadel dan Yulinar
Tempat
Praktik : RSUD Koja
Tanggal
pengkajian : 2 Januari 2016
A.
Identitas
diri pasien
Nama
Pasien : Tn. I
Tempat/Tgl
Lahir : Solo, 20 Mei 1961
Umur : 55 Tahun
Jenis
kelamin :Laki-laki
Pendidikan
:SMA
Pekerjaan
: Wiraswasta
Alamat :
Cilincing Jakarta Utara
Tanggal
Masuk RS :2 Januari 2016
Sumber informasi : Pasien
Agama
:Islam
Status
perkawinan : Sudah menikah
Suku
: Jawa
Diagnosa
Medis :Anemia dan Ro pedis
Ruang/kelas :Penyakit Umum/ Lt. 8 Blok B
B.
Riwayat
keperawatan
a.
Keluhan
Utama
Klien mengatakan badannya terasa lemas,
lesu dan pusing, klien mengatakan kakinya bengkak, serta klien mengatakan mual
dan muntah.
b.
Riwayat
penyakit dahulu
Klien mengatakan belum pernah
drawat dengan penyakit yang sama tetapi dia pernah di rawat dengan penyakit
stroke.
c.
Riwayat
penyakit keluarga
Klien mengatakan keluarganya
mempunyai riwayat asma tetapi tidak dengan Anemia.
d.
Riwayat
sosial
Klien mengatakan tinggal ditempat
yang kumuh dan padat penduduk.
C.
Pemeriksaan
fisik
1. Keadaan
umum :Composmentis
2. Keadaan
status gizi
a. Tinggi
badan :150 cm
b. BB : 50 kg
3. Tanda –tanda vital
a. Tensi
darah : 110/70 mmHg
b. Nadi
:70 x/ menit
c. Respirasi
: 18 x/menit
d. Suhu
:36,20 C
4. Daerah
kepala dan leher
a. Kepala
·
Rambut :tidak
rontok, warna rambut hitam.
b. Mata
·
Iris :normal
·
Pupil : normal
·
Konjungtiva :anemis
·
Sklera :ikterik
c. Hidung
·
Bentuk :simetris
·
Sekret :tidak ada sekret
·
Perdarahan :tidak
ada perdarahan
d. Mulut
Bentuk :simetris
(tidak ada sianosis)
Perdarahaan :tidak ada
perdarahan
e. Telinga
Bentuk :simetris
Perdarahan :tidak ada
perdarahan
f. Leher
Bentuk :simetris
Pembesaran vena jugularis :pembesaran KGB
5. Thorax
Bentuk :simetris
Warna kulit :sawo matang
Bunyi nafas :vaskuler
Bunyi Jntung : BJ 1 dan BJ 2
6. Abdomen
Warna kulit :sawo matang
Nyeri tekan :tidak ada nyeri tekan
7. Ekstermitas
a. Atas
Bengkak : tidak ada pembengkakan
CRT :<
3 detik
Akral :dingin
b. Bawah
Bengkak : tidak ada pembengkakan
CRT :<
3 detik
Akral :dingin
D.
Pemeriksaan
penunjang
a.
Laboratorium
|
Jenis Pemeriksaan
|
Hasil
|
Nilai Rujuk
|
|
Haematologi :
Hb
Leukosit
Ht
Trombosit
|
7,9 g/dl
6,53 ^3/ul
24,2 %
387 ^3/ul
|
13,5-18,0
4,00-10,50
42,0-52,0
163-337
|
b.
Rontgen
·
EKG normal
·
Ro :Pedis
E.
Penatalaksanaan
/Terapi
·
Tramifen 3x1 mg
·
Aminefron 3x1 mg
·
Imbion 1x tablet
·
Ranitidin 2x1 mg
·
Granicentron 1x3 mg
·
Nacl 0,9 % (6 tts/menit)
·
APRC 250 CC/hari (2
hari berturut-turut)
F.
Analisa
Data
|
Symtome
|
Problem
|
Etiologi
|
|
DS :
1. Klien
mengatakan kedua kaki nya bengkak
DO :
1. Klien
tampak lemah
2. Kesadaran
composmentis
3. Akral
dingin
4. Ht
:24,2 %
5. Pembesaran
vena jugularis :pembesaran KGB
|
Kelebihan
volume cairan
|
Berhubungan
dengan gangguan mekanisme pengaturan
|
|
DS :
1. Klien
mengatakan mual muntah
DO :
1. Klien
tampak lemah dan lesu
2. Konjungtiva
anemis
3. TB
:150 cm
BB :50 kg
4. Ranitidin
2x1 amp
5. Granisentron
1x3 mg
6. Hb 7,9
g/dl
|
Resiko nutrisi
kurang dari kebutuhan tubuh
|
Berhubungan
dengan mual muntah
|
Diagnosa Keperawatan
1. Kelebihan
volume cairan Berhubungan dengan gangguan mekanisme pengaturan
2. Resiko
nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh Berhubungan dengan mual muntah
G. Perencanaan Keperawatan
|
No
|
Diagnosa Keperawatan
|
Perencanaan
|
||
|
Tujuan/KH
|
Intervensi
|
Rasional
|
||
|
1.
|
Kelebihan volume cairan
Berhubungan dengan gangguan mekanisme pengaturan
|
Setelah dilakukan tindakan keperawatan
2 x24 jam diharapkan klien :
1. Tidak
ada bengkak pada kedua kaki nya.
1. Klien tampak lemah
2. Akral
hangat
3. Ht dalam
rentang normal 42,0-52,0 %
4. Tidak
adanya Pembesaran vena jugularis.
|
Mandiri
:
1. Pantau
TTV
2. Monitor
tanda dan gejala dari edema.
3. Kaji
ekstrimitas terhadap gangguan sirkulasi dan integritas kulit.
4. Tinggikan
ekstrimitas untuk meningkatkan aliran balik vena.
5. Pantau
hasil Ht
Kolaborasi :
1. konsultasikan
ke dokter jika tanda dan gejala kelebihan volume cairan menetap atau memburuk
|
1. Agar
TTV dapat termonitor
2. Untuk
mengetahui faktor apa saja yang menyebabkan edema.
3. untuk mengetahui perubahan turgor
4. Agar
darah dari ekstrimitas ke jantung normal
5. Agar
hasil Ht termonitor
1. Untuk
mendapat tindakan lebih lanjut
|
|
2.
|
Resiko nutrisi kurang dari
kebutuhan tubuh Berhubungan dengan mual muntah
|
Setelah dilakukan tindakan keperawatan 2x24 jam diharapkan
klien :
1. Tidak
ada mual muntah
1. Tidak
lemah dan lesu
2. Konjungtiva
ananemis
3. Dapat
mempertahankan IMT
4. Hb
dalam rentang normal 13,5-18,0g/dl
|
Mandiri
:
1. Identifikasi
faktor pencetus mual dan muntah
2. Catat warna,
jumlah dan frekuensi muntah
3. Tawarkan
hygine mulut sebelum makan
4. Pantau
hasil LAB (Hb)
5. Pantau
efek samping dari obat ranitidin dan granisentron
Kolaborasi
:
1. Berikan
obat antiemetik (Ranitidin 2x1 amp dan
Granisentron 1x3 mg)
|
1. Untuk menetapkan
cara mengatasinya.
2. Agar
mengetahui warna, jumlah dan frekuensi normal/tidak dari muntah
3. Untuk
mengurangi rasa mual dan muntah.
4. Agar
hasil Hb dapat termonitor
5. Agar
termonitar apakah ada efek samping atau tidak dari obat antiemetik tersebut
·
Ranitidin (efek samping sakit kepala,
urine keruh)
·
Granisentron (efek samping :sakit
kepala, konstipasi dan kelelahan)
1. Untuk
mengurangi rasa mual dan muntah dan diharapkan intake nutrisi pasien
meningkat.
|
H.
Catatan Keperawatan
|
Tanggal /jam
|
Diagnosa keperawatan
|
Implementasi keperawatan (Responnya)
|
Paraf
|
|
4 januari 2016/ 16.30
|
Kelebihan volume cairan
Berhubungan dengan gangguan mekanisme pengaturan
|
Mandiri
:
1. Pantau
TTV
2. Monitor
tanda dan gejala dari edema.
3. Kaji
ekstrimitas terhadap gangguan sirkulasi dan integritas kulit.
4. Tinggikan
ekstrimitas untuk meningkatkan aliran balik vena.
5. Pantau
hasil Ht
Kolaborasi :
1. konsultasikan
ke dokter jika tanda dan gejala kelebihan volume cairan menetap atau memburuk
|
|
|
4 januari 2016/ 17.00
|
Resiko nutrisi kurang dari
kebutuhan tubuh Berhubungan dengan mual muntah.
|
Mandiri :
1. Identifikasi
faktor pencetus mual dan muntah
2. Catat
warna, jumlah dan frekuensi muntah
3. Tawarkan
hygine mulut sebelum makan
4. Pantau
hasil LAB (Hb)
5. Pantau
efek samping dari obat ranitidin dan granisentron
Kolaborasi
:
1. Berikan
obat antiemetik (Ranitidin 2x1 amp dan
Granisentron 1x3 mg)
|
|
I.
Catatan
perkembangan
|
Tanggal /jam
|
Diagnosa keperawatan
|
SOAP
|
Paraf
|
|
8 januari 2016/ 10.00
|
Kelebihan volume cairan
Berhubungan dengan gangguan mekanisme pengaturan
|
S : klien
mengatakan bengkak di kaki sudah tidak ada
O :Tidak
ada edeme di kaki
A :masalah
teratasi
P : Rencanakan
perawatan di rumah
|
|
|
7 januari 2016/ 11.00
8
januari 2016/ 11.00
|
Resiko nutrisi kurang dari kebutuhan
tubuh Berhubungan dengan mual muntah.
|
S :Klien mengatakan mual muntah sedikit
berkurang
O : konjungtiva
ananemis
A :masalah
teratasi sebagian
P :tindakan
dilanjutkan
S :Klien
mengatakan tidak ada mual muntah
O:
konjungtiva anemis
A: masalah
teratasi
P:rencanakan
keperawatan dirumah
|
|
patofisiologi
|
Penghancuran
eritrosit yang berlebih
|
|
Terhentinya
pembuatan sel darah merah oleh sumsum tulang
|
|
Resiko nutrisi kurang dari
kebutuhan tubuh
|
|
Kelebihan volume cairan
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar